SUFISME



SUFISME DAN JALAN SUFI MENUJU KECERDASAN CINTA*)






Indonesia saat ini mengalami pergeseran pemahamaan keberagamaan, tradisionalisme bergeser kepada modernisme dan sufisme esensialisme bergeser kepada formalisme pemahaman, sufisme sebagai kategori praktik praktek keagamaan dalam ajaran Islam telah banyak mempengaruhi dimensi baik negara maupun individu. Akibatnya, sufisme tidak bisa lagi menjadi kebutuhan satu agama, akan tetapi menjadi metodologi sosial yang menarik untuk dicermati pada perilaku masyarakat khususnya bagi perkembangan agama agama lain terutama Kristen.


Kristen jelas memiliki sejarah paraktek pertumbuhan sufisme dunia, buktinya pada abad ke 7 kehadiran dan praktek sufisme di Byzantium berdampak pada kelembagaan baru jenis asketisme Kristen dan monastisisme di Timur Europa dalam bentuk fitur penting sufisme. Meskipun sufisme di klaim sebagai bentuk runtuhnya kejayaan Islam atas modernisasi dan science yang berkembang sebagai bentuk kejayaan peradaban Islam terhadap ilmu pengetahuan, tapi munculnya sufisme menjadi bentuk aksi dan reaksi keberhasilan dunia Islam pada masa surutnya zaman pencerahan itu juga.


Bagaimana memahami sufisme ditengah tengah menguatnya ekstrem ajaran Islam kanan dan kiri, dan bagaimana dengan sufisme dari perspektif asketisme dan keimanan? Tulisan ini hanya sekedar memberi sebuah pengantar sebuah buku yang berjudul " Jalan Kebahagiaan Para Sufi " . Meskipun buku tersebut lebih banyak menuangkan ide ide praktis tasawuf dalam perkembangan dunia khususnya hal hal yang membuahkan amal dan ilmu yang menadalam tentang tasawuf dan makrifat untuk mendapatkan kebahagiaan sebagaimana ditulis oleh penulisnya, namun di pengantar ini saya hanya akan memberikan sedikit saja memberikan pemahaman tentang Cinta dalam tasawuf.


Bermula perkembangan pemikiran keduniawian dan politik Islam pada zaman pasca nabi dengan meningkatnya ajaran puritanisme yang lebih banyak di bawa oleh wahabisme, pada awal abad 20 di Basra, Iraq, oleh pendirinya Ibn Abdul-Wahhab yang sebenarnya lebih terpengaruh oleh kendali kolonial Inggris yang mereka panggil dengan nama Hempher; sengaja dikirim untuk menyamar sebagai seorang mata-mata untuk memecah belah negeri-negeri khususnya Islam.


Munculnya Wahabi dan perpecahan Muslim (di Timur Tengah) yang sebenarnya hanya bertujuan untuk menggoyang Kekhalifahan Utsmaniyyah dan menciptakan konflik di antara sesama kaum Muslim. Hampir sama yang terjadi di Indonesia dengan politik devide et imperanya Snouck Hurgronje untuk menyelidiki kekurangan serta kelemahan Indonesia serta mengalahkan pertahanan bangsa kita.


Mereka licik dan pura-pura baik dan menjadi seorang Muslim garis lurus, memakai nama Muhammad, dan mengembalikan ajaran nabi Muhammad , namun dibalik itu mereka menghancurkan dan membenci keluarga Nabi dengan mulai menghancurkan situs situs sejarah dan tempat tempat suci tentu dengan cara yang licik. Seperti mengencingi, menaruk kotoran bahkan menghancurkan makam makam tokoh terkenal yang berjasa bagi Islam. Mereka melakukan pendekatan dan persahabatan dengan Ibn Abdul-Wahhab dalam waktu yang relatif lama dan banyak mempengaruhi cara cara abdul wahab menyebarkan ajarannya.


Pada kenyataannya realitas sufisme esensial adalah mencontoh ketauladanan nabi Muhammad yang memiliki banyak pengikut dan berusaha untuk menyelaraskan setiap aspek ketauladanan kehidupan nabi dengan kehidupan sahabat nabi sesuai dengan ketauhidan dan menyandarkan perilaku hidup mereka secara total dengan kehendak Allah, yang bisa digaris bawahi secara umum dinyatakan sebagai bentuk penyatuan dengan Tuhan, melalui cinta dan jalan sufi.


Menurut pemikiran Fazlur Rahman, ide sufisme tentang unity atau penyatuan dengan penciptanya itu bukan cuma terdapat di Islam, namun di Kristen pun juga dipengaruhi oleh tasawuf, seperti ketika Yudaisme, berpikiran bahwa penyaliban Jesus Kristus adalah bagian dari ide unity dalam sufisme, demikian juga Budhisme dan Zoroastrianism dalam pemikiran gnostisisme.


Gnotisisme adalah intepretasi penafsiran alkitab tentang mistisisme, yang telah lama ditafsirkan oleh Yahudi ketika peristiwa di Talmud. Exegese dan proses menggabungkan kekuatan baik dan jahat, Ilahi dan di bumi, transendent dan immanent yang selalu tarik menarik , sebagai bentuk peleburan eksistensi ke esensi ke ilahian. 


Praktek sufisme atau gnostisisme, juga menunjukkan sikap batin yang menunjukkan pada sikap hermeneutik pemaknaan harfiah teks teks kitab yang secara umum dipengaruhi oleh pemikiran abad pertengahan Islam di timur dimana mereka mengatakan bahwa sufisme dan kontribusinya bukanlah asli berasal dari intepretasi ajaran agama Islam dalam perspektif esoteris meskipun secara umum perilaku sufisme tidak bisa dilepaskan dari tradisi dan sejarah sufisme di ajaran Islam yang memiliki penilaian historis vis-à-vis mainstream ajaran Islam. 


Secara filosofis dan artistik terutama puisi puisi asketis serta musik musik yang diciptakan sebagai bentuk tradisi sufisme neoplatonik memberikan kontribusi pada penyebaaran sufisme melalui berbagai budaya khususnya abad pertengahan-12 dan 13 oleh tokoh bernama Abu Hamid Al-Ghozali.


Sufisme masih memicu perdebatan antara Ulama kontemporer dan ulama jaman old tentang pertanyaan tentang pengaruh mursyid atau guru sufi yang dipimpin oleh para syaich, yang juga terdapat pada perilaku agama Hindu, dimana ada hubungan antara guru dan murid yang disebut sebagai " shishya parampara " di mana guru adalah sosok yang mengambil tanggung jawab menyampaikan pengetahuan, pengalaman dan pengetahuan tekstual dari Sanata Dharma kepada murid muridnya.



Hal ini juga ditemukan dalam Al Qur'an antara Musa dan Harun, atau antara Khidir dan Musa, dimana banyak kisah kisah yang membuktikan posisi Guru atau Mursyid dalam konteks Sufi, sangat penting dalam ajaran dan perkembangan sufisme. Guru atau Mursyid juga berfungsi memberikan interpretasi ayat-ayat Al-qur'an, dan ketauladanan dari kehidupan dan praktek nabi Muhammad. 



sufisme adalah cara hidup yang lebih dalam menemukan identitas dalam hidup. Dalam konteks identitas kemampuan kesadaran, tindakan, kreativitas dan cinta jauh melampaui kemampuan superfisial nilai nilai kepribadian. Pada akhirnya jalan sufi dipahami sebagai kemampuan besar memaknai cara hidup. Ini adalah tradisi pencerahan yang penting dalam mencapai dan menemukan kebenaran melalui nalar sufis. 



Dalam konteks negara, saya selalu menyukai metode sufisme yang bisa menjebatani beberapa friksi dan aliran aliran politik keagamaan yang saat ini sangat mengganggu hubungan horizontal hablum min annas manusia di dunia. Meskipun sufisme membutuhkan reformulasi dan ekspresi yang disesuaikan dengan jaman now. 


Melalui reformulasi sufisme tidak berarti bahwa sufisme akan berkompromi dengan tantangan materialistis Society. Makna "keduniawian" - menurut Abu Muhammad muta'ish sebagai kehadiran yang sementara, dia mengatakan: "sufi dia yang berpikir terus dengan kecepatan kakinya - yaitu, ia sepenuhnya hadir: jiwanya adalah di mana jiwa adalah tubuhnya, dan tubuhnya di mana jiwanya adalah tubuhnya, dan jiwanya adalah kakinya dan kakinya adalah dimana hidup jiwanya. Dunia ini adalah tanda adanya tanpa tidak adanya. 



dikatakan juga manusia tidak hadir dari dirinya sendiri tetapi hadir dengan Allah. Dia hadir dengan dirinya sendiri dan hadir dengan Allah. Begitulah ketika kita hidup dalam budaya yang telah digambarkan sebagai materialistis, atau materialistic society maka untuk menjadi pelupa dari realitas Ilahi, manusia dalam hal ini harus bisa berjalan keluar dari labirin sekuler, bentuk bentuk komersialisasi budaya. Sufistik, mereka mengasingkan diri, cara hidup zuhud yang disebut sebagai neurotically individualistis, atau bentuk pribadi pribadi yang memiliki kepekaan syaraf, penuh kecemasan, penuh malu dan tingkat bersalah yang tinggi untuk menghentikan penderitaaan dan tirani terbesar dari hidupnya yaitu tirani kemanusiaan dan ego, demikian ditulis oleh beberapa penyair besar ajaran sufi.


Al-qur'an mengakui validitas 120,000 Nabi atau utusan yang telah datang untuk membangkitkan kesadaran kita dari egoisme dan mengingatkan kita pada posisi lain yang tak kalah penting di alam ini yaitu unsur rohani. Al-qur'an dikonfirmasi validitas dari masa lalu soal Wahyu, Sementara dalam Al- qur an juga menegaskan bahwa universalitas berasal dari yang satu yaitu Allah. Sufisme sebagai akar tasawuf dalam ajaran Islam adalah bentuk dan apresiasi pemahaman tentang Al-qur'an, ucapan Muhammad, dan perilaku sahabat serta guru guru sholeh dalam memperoleh keridhoan melalui jalan sufi. 


Pengertian tentang fundamentalisme dalam arti selalu kaku menafsirkan Wahyu atau ayat ayat allah serta mendiskreditkan agama lain adalah buka bagean dari jalan sufi. Metode sufisme yang paling sering mewakili prestasi dalam budaya Islam dan kekuatan toleransi dan moderasi lebih dari empat belas abad dilakukan oleh tokoh tokoh sufisme, mereka menyumbangkan literatur dan pemikiran tentang tafsir agama dan Islam sebagai prinsip-prinsip panduan memahami Al-qur'an dari heroik penyimpulan ayat dan surat surat dalam Al-qur'an yang dilakukan hanya secara formal Letterlijk, yang kemungkinan itu bisa dari kesederhanaan pengetahuan dan pemahaman yang tidak menyeluruh ( sepotong - sepotong ).


Melakukan jalan sufi berarti mendorong pengetahuan spiritual yang memungkinkan memahami spiritualitas cinta dan kesadaran untuk mendapatkan kebijaksanaan literatur kebijakan yang lebih besar. Di mulai dari akarnya sufisme memiliki organik spiritualitas yang tumbuh seperti pohon dengan banyak cabang. 


Dan di setiap cabangnya memiliki pengetahuan yang tercerahkan melalui guru dan metode pengajaran cukup untuk memulai ranting baru pertumbuhan. Dari cabang-cabang umumnya tidak melihat satu sama lain sebagai saingan. Namun ranting dan cabang cabang pohon itu menjadi mozaik tumbuhnya sebuah kehidupan yang kokoh seorang sufi.


Pusat kebenaran dalam pemahaman sufisme yaitu Allah, pusat kebenaran itu adalah kesatuan yang tidak terpisah dari Ilahi, kesatuan kebenaran adalah posisi yang sangat baik untuk menghargai - secara 'emosional' karena menyusutnya dunia kita itu adalah 'emosi' yang menyusut karena komunikasi intelektual yang rasional logis karena perkembangan fisika modern, ilmu ilmu dunia yang materiaslistis, dialektika material yang hedonis, bahkan realisasi dari kebenaran ini memiliki efek mematikan hubungan kualitas kecerdasan spritual kepada orang lain dan untuk semua aspek kehidupan. 


Sufisme adalah selalu menyadari cinta yang berjalan melalui kehidupan manusia, karena jika sufisme memiliki sentral metode, maka pengembangan kehadiran diri dan Tuhan dengan cinta adalah kehadiran yang dapat membangkitkan kita terlepas dari perbudakan dunia melalui proses psikologis. Dan hanya cinta, kosmik cinta, kita dapat memahami Ilahi. Dalam sufisme cinta adalah aktivasi intelijen yang tertinggi untuk pencapaian spritual yang baik secara rohani, artistik, sosial dan sangat ilmiah. 


Dan terakir sufisme adalah atribut dari mereka yang mengasihi. Mengasihi adalah keluar dari ego seseorang yang dimurnikan dengan cinta, bebas dari klaim klaim kebenaran dan sepenuhnya memperhatikan cinta. Karena sufi tidak menciptakan sebuah perbudakan baru dari kualitas manusia, karena ia melihat segala sesuatu yang dimiliki itu sebagai milik sumber yaitu Allah. Syeh Abu Bakr Shibli ( 861 - 946 ) mengatakan: "sufi melihat apa-apa kecuali Allah dalam dua dunia." 

Comments

Popular Posts