PRIBUMI ( INDIGENOUS PEOPLE )






Pada kenyataannya kita emang sering sekali terbolak balik menggunakan istilah dan isu soal pribumi dengan masalah persamaan hak dan pelestarian ethnis. Disatu sisi di UU itu jelas mengatur tentang pelarangan menggunakan produk kebijakan dan membuat produk kebijakan yg memakai istilah pribumi. Bukan menolak identitas asli sebuah negara. Karena kalau begitu pemahaman sempit soal global society menjadi hilangnya batas batas peradaban dan hak territorial sebuah negara.

Istilah pribumi penting karena adanya hak dan pelestarian sumber daya genetik masyarakat dan komunitas lokal atas pengetahuan tradisional yang telah diterima sebagai bentuk indentitas ethnic, apa yg salah? Seperti suku aborigin, suku astec, apache, dsb. Banyak kok UU dirancang untuk melindungi suku asli mereka, Indonesia mana?? Yang ada Indonesia semakin tidak memiliki jati diri karena sistem global dalam pilihan politik.

Namun demikian bukan berarti ketika kita melindungi suku asli, yg kemudian direduksi oleh politisi sebagai kelompok yg kurang mendapatkan perhatian dalam kebijakan dan hasil hasil pembangunan, maka muncullah pro dan kontra soal persamaan hak. Padahal persamaan hak itu harusnya ada setelah menerima perlakuan dulu pengertian persamaan ( equilibrium ) secara umum. Bukan tebang pilih.

Hal ini pernah terjadi pada suku Nagoya, ketika amandement UU di uni eropa juga terpengaruhi atas kebijakan biopiracy, maka dengan adanya penghapusan hak pribumi akan menghasilkan legitimasi pengambilalihan sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional dalam sejarah suku tersebut. Maka disepakati bersama persyaratan untuk penggunaan istilah Pribumi untuk tetap memberikan hak yg lebih sumber daya genetik masyarakat dan kelompok masyarakat lokal dan pengetahuan tradisional mereka sebagai suatu keniscayaan. Karena merekalah yg memiliki sejarah inland atau tempat tinggal atau kepulauan.  
Soal kebijakan indigenous people ini juga terjadi pada masa pemerintahan yuan, Negara China dan taiwan masih memakai undang undang masyarakat pribumi yang sering kita kenal sebagai The Yuan-chu min-tsu wei-yuan-hui policy. Hal ini digunakan untuk mensejahterakan masyarakat asli suku dalam, orang orang China.

Ada beberapa pendapat kalau bahasa asli Indonesia bukan dari Sanskerta atau dari bahasa Pali namun berasal dari bahasa Aryan yaitu tamil selatan mengingat ada bukti bahwa bagaimana pada masa Firaun mereka banyak memberikan perhiasan kepada wanita wanita necutu dengan pernak-pernik untuk menggauli pendatang dari 'Indonesia ' atau mentransfer uang untuk orang asing, termasuk suku yg melahirkan bangsa Indonesia sebagai asal suku asli nenek moyang Indonesia. Jadi salah juga bila benar alternatif temuan sejarah ini apabila ada yg mengatakan bahwa bangsa Indonesia tidak memiliki nenek moyang asli karena semuanya adalah pendatang.

Pada masa kekaisaran Augustus, zaman dimana peradaban klasik Mediterania, banyak orang asia sudah mengirim rempah rempah ke Roma seperti kayu manis, cengkeh dan sebagainya, bahkan ada beberapa ahli tumbuhan mengatakan bahwa cinnamomum, yang hanya tumbuh di Ethiopia, juga pernah sampai ke Roma. Mereka membeli dan barter dengan membawa barang barang mereka dari rakit yang tidak memiliki kemudi namun dengan alat tradisional yang mengarahkan mengarahkan kapal mereka, tidak ada dayung untuk mendorong mereka, tidak ada layar untuk mendorong mereka, hanya keberanian dan pengetahuan tentang astronomi tradisional.

Ada pendapat bahwa kepulauan Indonesia yang di datangi oleh beberapa pendatang asing sehingga menghasilkan bermacam keturunan, termasuk afrika dan china, namun pendapat ini mengatakan berbeda, bahwa bangsa asli Indonesia telah lama melakukan perjalanan ke negara lain sampai ke negeri negeri jauh. Bahasa KUK yang terjemahannya dari periplus Maris erythræi, menunjukkan bahwa di Indonesia, istilah sangara sama dengan shangadam, dalam bahasa tamil dan Kano kuno disebut sebagai rakit yaitu berupa dua rakit yang menempel yang tampak menempel, dempet, dobel, seperti pada gambar yang saya foto sendiri dibawah (?), yang cukup besar, terbuat dari satu log kayu yang diikat, dan sekarang dikenal dg Kano baik oleh Melayu atau dari bahasa Indonesia untuk mengunjungi kemudian menetap di Afrika Timur, dan kemudian mereka merantau sampai ke mandagaskar.



Comments

Popular Posts