Dewi Rantan Sari

Benarkah sudah mati kekuatan perempuan dalam politik? Beberapa puluh tahun silam, Indonesia sangat kental ethos , mithos dan kejayaan perempuan dalam mempertahankan kemerdekaan, tercatat ada nama nama seperti Dewi Sartika, Cut Nya Dien, Cut Muthia, Kartini dsb. Selama 72 tahun lamanya kita baru memiliki satu Presiden perempuan dan 6 presiden laki laki, sementara di negara negara lain mereka sudah memiliki puluhan nama nama mantan kepala negara, sepertinya kita kesulitan melakukan regenerasi dan kaderisasi pemimpin negara.

Bisa dipastikan setiap petahana pasti menginginkan kembali dipilih, ini menandakan bahwa jabatan Presiden atau pemimpin negara itu empuk dan membutakan. Non sense mereka tak menikmatinya, jadi campaign kepala negara tanpa pamrih itu adalah bualan semata. Kecuali satu Presiden Bj. Habibie, dia membuktikan tidak mau mencalonkan kembali untuk kedua kaliny ataupun merecoki pemerintahan setelahnya dengan masih ikut campur dalam percaturan politik. Sebagaimana terjadi pada Presiden presiden lainnya, baik tetap aktif memimpin partai ataupun anak anaknya yg tetap di dorong dalam dinastinya.

Saya jadi ingat anak yg dibesarkan dr keturunan keluarga kerajaan di Prancis dengan perilaku khusus dan kemewahan yg absolut, belajar satu meja dg saya di sebuah universitas yg mengajarkan soal sosialisme dan bagaimana sejarah perjuangan rakyat kecil mempertahankan kemerdekaannya. Anak bangsawan ini sangat cerdas dan sering bertanya pada saya, bertukar cerita soal sejarah dan perilaku politik para oligarchs dan politisi di masing masing negara kami, suka dan duka menjadi seorang bangsawan dan sebagaimya. Pertanyaan si bangsawan ini kepada saya adalah, tentang mengapa masyarakat yg dihasilkan dr sejarah post feodal atau perjuangan membebaskan diri dr feodalism jauh lebih agresif dalam konteks kekuasaan dan nafsu berkuasa ketimbang masyarakat yg hidup sebagai bangsawan dalam sejarah bangsawan di Prancis. 

Dia membandingkan antara perilaku politikus dan masyarakat Italy dg Prancis yg berbeda. Masyarakat prancis dianggap lebih halus mengungkapkan hasrat berkuasa dan kerakusan terhadap dunia ketimbang negara tetangganya tersebut, Budi bahasa mereka yg masih satu rumpun dg bhs latin juga terdengar lebih indah. Sahabat saya itu menjawab bahwa mengapa demikian karena perubahan dan kesadaran atas Revolusi mental itu diawali oleh mereka sendiri para elit dan bangsawan yg berada pada level atas, bukan masyarakat awam. Bangsawan mulai membicarakan tentang perubahan dan demokrasi. Bangsawan dan elit mulai membuka diri buat persamaan hak dan HAM. Dan Bangsawan dan elit bougouislah yang pertama kali melakukan rekonstruksi ideologi. 
  
Mereka tidak lagi canggung buat menurunkan kelas mereka dan melakukan perbaikan ekonomi dan politik. Namun berbeda dengan negeri kami Indonesia, hasrat dan nafsu berkuasa elit politik kami justru saling berbenturan, antara kelas bawah dan elit sama sama mau berkuasa, yang minoritas maupun yang mayoritas juga sama sama ingin berjaya, mengontrol dan mendominasi. Elit atau mereka yg sudah tidak lagi menjabat Presiden masih memiliki kekuatan dan pengaruh yg luar biasa.

Rezim hanya berubah posisi, tidak ada yg equal dari tahun ke tahun dalam perubahan kepemimpinan, Tak ada satupun teori yg bisa menjelaskan bahwa dikotomik itu hanya bisa cair oleh ide Nasionalisme. Mereka ini adalah kelas menengah dan kelompok intelektual. Yang dahulu pernah menjadi aktivis pada masa lengsernya Soeharto. Reformasi tak membawa perubahan sama sekali kecuali kekuatan yg berhadap hadapan, apapun itu issu yg berkembang, coba jawab adakah satu Issu yg bisa menyatukan bangsa ini selain NASIONALISME? tentu tidak ada.
       
     
  

Mendekonstruksikan kembali pada kepentingan nasional bukan lagi partial adalah hal yg sangat mendesak ketimbang warna bersayap soal nilai persatuan dan kesatuan simbolis yg sampai sekarang tidak bisa menemukan maknanya. Bagaimanapun juga design persatuan dan kesatuan itu tidak cukup direalisasikan dan diwacanakan secara politik, politik persatuan dan kesatuan akan absurd tatkala itu diucapkan oleh Donald Trump, yang secara tidak langsung dia menguatkan posisi Kelompok kulit putih di Amerika dan sekte Kruk yang merupakan Kristen garis keras dan ortodok. Demikian pula saat Jokowi membentuk team Pancasila yang kemudian orientasinyapun tidak jelas, saat team itu menjadi kepanjangan tangan kekuasaan dan kontekstual. Maka maknanya menjadi kabur dari realitas yang lahir dari idiology dan kesadaran nasional sebuah bangsa.

Di Jawa tengah ada mitos yang dikenal dengan Dewi Rantan Sari, mitos ini berkembang di daerah kawasan laut pantura, yang dipercayai oleh sebagean besar masyarakat disana. Apabila disebut nama Dewi Rantan Sari itu tiga kali di daerah kekuasaannya seperti Pekalongan, Slawi, brebes,Tegal dan Pemalang, maka dipercaya suatu ketika siluman tersebut akan menampakkan diri dengan wujud yang dikehendakinya, sebagai perempuan yang cantik dan rupawan ataupun perempuan yang hitam dan tua renta.
       
Dewi Rantansari, kembali ke mitos ini yang sebagean masa lalu kekuasaan lokal masih memiliki konsep yang jelas pada perluasan area dan pembangunan pembangunan di perdikan baru seperti, Tegal, Brebes, Slawi dan Pekalongan. Perempuan cantik dan pintar namun tetap saja menjadi tumbal kekuasaan kekasaan sexual pemilik Istana. Kecantikan yang semestinya tidak lagi menjadi persembahan, sebagaimana yang terjadi saat ini.

Indonesia negeri yang kaya raya akan hasil bumi dan energi, masih saja tidak beranjak dari eksploitasi kekayaan dan kecantikan alam oleh investor asing karena kita malas untuk menunda sebentar, menunggu kita memiliki kemampuan dan teknologi mengelola sendiri. Kemudian bisa menguasai secara penuh tanpa manipulasi ekonomi. Sementara ini investasi yg dibanggakan adalah perwujudan dari bentuk eksploitasi alam oleh perusahaan asing di negeri kita, mengambil dari dalam bumi kita, namun kita bagi hasil tak kurang dari 40% lainnya masuk kekantong negera lain. Serumit itukah mengelola kecantikan dan kekuasaan?

Demikian juga dengan persoalan kepercayaan atas kebaikan dan harapan, yang menjadi mistis dan hilang rasionalitas karena di negeri inipun tak tersedia kepercayaan yang besar rakyat kepada institusi. Sebut saja institusi kesehatan. Kita kalah dengan singapura negeri tetangga. Bagi mereka yang memiliki uang mengobati sama sama penyakitnya, maka mereka lebih mempercayai dokter dan tenaga ahli asng ketimbang anak negeri. Apalagi saat ini, dimana masuk kedokteran cukup dengan sekian rupiah tanpa kepandaiqn dqn kecerdasan lagi. Bagi mereka yang tak memiliki cukup dana dan keterputus asaan maka masyarakat kita sangat cepat takjub kepada hal hal yang diluar akal dan nalar  sendiri.

Saya jadi ingat ketika suatu hari saya sedang kebingungan, mencari obat buat kesembuhan orang tua saya, terkadang ikhtiar ke tempat tempat pengobatan alternatif itu adalah bagean dari keterputusasaan. Karna kita tak menemukan kepuasan kepada rasionalitas medis yang di negeri kita, baik harapan maupun kenyataan tak memiliki prespektif yang positif. Contoh saja, dokter yang telah menjadi Tuhan kedua di dunia, mengkalkulasi jumlah dan akir usia pasien yg teridikasi penyakit yang belum mampu memiliki progresivitas data yg baik untuk sembuh ataupun karena belum ada obatya. Sebenarnya yang terjadi adalah kita dan negeri ini malas menciptakan apalagi menemukan penelitian yg berguna bagi pengetahuan terutama di bidang pengobatan.

Ketika alternatif menjadi pilihan yg memaksa orang yg berpikir rasionalis seperti saya, maka otakpun dijebak oleh sang supra natural mengikuti apa apa yang menjadi kebenarannya, versi mereka, bukan versi obyektif apalagi ilmiah. Saat itu sang dukun tercengang saat melihat saya, dia melihat saya adalah seorang nenek nenek tua renta, jelmaan Dewi Rantan Sari. Tentu ucapan ini mengganggu kita yang waras. Rantan Sari bukanlah semata mata mitos yg berbeda, yang dianggap sebagai simbol penjaga, dibandingkan Roro Kidul maupun Dewi Lanjar yg lebih sarat memiliki gambaran kedigdayaan, kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan. Rantan sari adalah kecantikan yg diperebutkan maupun persembahan politik dan ketakberdayaan rakyat yang lemah dan tak berdaya. 

Sampai saat ini perempuan dan politik tidak pernah bergerak satu inchi pun dalam memaknai perkembangan Negara kecuali mithos yg dikukuhkan setiap era dan rezimnya. Bahkan ditengah tengah perkembangan informasi media sosial yang tak lagi sehat, perempuan tetap hanya menjadi isu isu murahan, menambah buruk citra politik di tanah air. Penegakkan korupsi dan keadilan tidak sampai tuntas karena pemimpin KPK, Hakim maupun anggota DPR terjebak perselingkuhan. Pemimpin Agama juga jatuh pamornya karena mereka bermain politik dan hancur karena skandal perempuan ( kasus chat HRS ), dsb. Harga perempuan dan politik masih sebatas bumbu bumbu primordialisme laki laki di seluruh dunia.




Comments

Popular Posts