Thursday, 9 February 2017

Methodology Development Studies ( SERI KEDUA )






Perjuangan Kita Sama Mengapa  Berebut ?


Perjuangan kita sama mengapa mesti berebut kursi dan kepentingan? Perjuangan kita saat ini adalah melawan rezim kemiskinan, bukan anti liberalisme dan demokrasi. Siapapun itu dari eksponen Islam, non Islam ataupun etnik china dan komunisme

Komunis berjuang untuk pencapaian tujuan langsung, untuk penegakan kepentingan sesaat dari kelas pekerja; tetapi dalam gerakan ini, mereka juga mewakili dan mengurus masa depan gerakan itu. Di Perancis Komunis sekutu diri dengan Sosial-Demokrat, melawan kaum borjuis konservatif dan radikal, komunis adalah pemesan ekonomi kebijakan sosialis terdepan dibandingkan gaya gaya politik aristokrat yg banyak menginginkan diakui dan dilayani sebagai penguasa, bagaimanapun, hak untuk mengambil posisi penting dalam hal ini mendapatkan posisi yang paling mudah dalam menarik frase rakyat kelas menengah kebawah dan ilusi tradisional diturunkan dari Revolusi besar.

Di Swiss misalnya, mereka mendukung Radikal, tanpa mengabaikan fakta bahwa partai yang terbesar disana juga terdiri dari unsur-unsur antagonistik, sebagian dari Demokrat Sosialis, dalam arti Perancis tetap menjadi bagean dari borjuis radikal.

Di Polandia mereka mendukung partai yang bersikeras revolusi agraria sebagai kondisi prima untuk emansipasi nasional, bahwa partai yang menggerakkan pemberontakan di Cracow pada tahun 1846, juga dilatari oleh sebagean kelompok elit politik yang terlalu rakus dalam memberikan kebijakan developer dan kelas atas memberangus hak hak petani dan politik hijau yang sebenarnya jauh lebih manusiawi dalam membantu negara mempertahankan pangan dan mengurangi kemiskinan.

Di Jerman pertarungan  dengan kaum borjuis juga tidak pernah berhenti, untuk sekejap, untuk menanamkan ke dalam kelas pekerja pengakuan kelas yang jelas jelas tidak mungkin terjadi bentuk antagonisme yang kemudian memunculkan sikap bermusuhan, akirnya segmen borjois di Jerman mencoba menurunkan kelas mereka lebih sedikit melalui revolusi kelas antara borjuasi dan proletariat, agar pekerja Jerman bisa langsung digunakan, karena begitu banyak senjata melawan kaum borjuis, sosial dan kondisi politik yang borjuis tentu harus memperkenalkan bersama bentuk supremasi setelah jatuhnya kelas reaksioner di Jerman.



Di Indonesia, mengapa kelas komunis justru dikibarkan dalam konteks apresiasi yang sangat besar terhadap gelombang atensitas etnik China dengan propaganda yang terlalu dibesar besarkan? Ini mungkin karena amandement UU 45 yang multi tafsir, sehingga kita tidak bisa menolak identitas lain diluar multi identitas dalam teori kebangsaan kita, berbeda dengan Jerman, Prancis, Amerika dan negara negara lain di dunia, mereka memiliki nenek moyang yang jelas meski kemudian dalam pertumbuhannya politik migrasi yang pertama kali dimunculkan oleh Machiavelli tidak bisa dipungkiri, berpengaruh kepada kritik identitas kebangsaan. Namun tetap saja orang Jerman akan mengatakan suku asli mereka adalah bangsa ariya,  Penduduk asli Amerika adalah suku indian atau bangsa indian yang berasal dari suku maya dan Prancis dikenal berasal dari suku Celtic, Liberia, ligurian dan Yunan. Toh mereka tetap bangsa prancis dan tidak mencoba mengkait kaitkan budaya suku Celtic atau bangsa liberia sebagai entitas yg mempengaruhi mereka dan perlu diperjuangkan peradabannya. Tarik ulur yang terjadi di Indonesia semata mata politik migrasi yang tidak menemukan bentuknya hingga kini.

Komunis akirnya menemukan isunya ditengah tengah pengalihan pemahaman yang esensial dalam pengelolaan negara, perhatian ini sama persis dengan masa dimana di Jerman mengalami pilihan pada malam revolusi borjuis yang dilakukan di bawah kondisi yang lebih maju dari peradaban Eropa, dan dengan proletariat jauh lebih berkembang, dibandingkan dengan Inggris. Indonesia harusnya sudah memilih dimanakah metodology komunisme ini berkembang dalam tatanan penerimaan akan munculnya generate baru berupa pilihan politik kanan yaitu Islam. Dalam penjelasan ini saya hanya ingin menjelaskan pada titik berat prinsip prinsip yang berbeda soal keadilan dan teori politik migrasi yang memunculkan kritik identitas kebangsaan dan lokalitas yang menjadi pemikiran komunisme hipotetik, bukan lagi berpijak pada tataran teori idealisme materialis apalagi historis.

Bagan prinsip prinsip justice memang tidak lepas dari konsep nilai, teori kebenaran dan nilai moral. Dan apapun perubahan dalam konteks sosial, makna keadilan dan kesetiaan tetap diturunkan dalam proses kebenaran yang dimaknai secara individu. Tidak melibatkan institusi apalagi politik kepentingan yg menjadi pertarungan ditingkat politik kekuasaan. Sampai kapanpun prinsip prinsip keadilan akan berakar dari sana, mula pertama prinsip dan study pembangunan meletakkan filsafat dasar pengelolaan negara.

( bersambung seri 3 dari 12 seri pendahuluan mengenal methodology development studies comparative )




No comments: