Tuesday, 7 February 2017

Methodology Development Studies ( PERTAMA )



 


Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis tentang ini, namun kesempatan itu baru bisa s terwujud sekarang dan mungkin juga akan terbagi dalam beberapa edisi dan tulisan, untuk kesempatan pertama ini saya akan menjelaskan tentang pemahaman awal development studies. Pertama tama, pengertian tentang study pembanguana adalah sebuah kunci dari dimensi seluruh kehidupan, hubungan sosial, politik dan budaya disebuah negara. Bahkan dalam beberapa tulisan disebutkan bahwa study pembanguna sangat berpengaruh bagi teori teori ekonomi dan pilihan negara dalam mengambil kebijakan khususnya disektor kerja publik atau bagaimana negara tersebut bisa menjalankan pembangunannya dengan baik. Satu bukti bahwa pembangunan membutuhkan metodology adalah bahwa komposisi pembangunan tidak cukup apabila mempertimbangkan aspek kuantitatif dari jumlah pemasukan belanja negara saja namun juga aspek kualitatif dari pendistribusian hasil hasil pembangunan yang bisa dirasakan oleh seluruh kelompok di negara tersebut.
Jadi faktor faktor dalam study pembangunan adalah pertama, faktor kualitatif dan kuantitatif study seperti dijelaskan diatas. Kedua adalah faktor incremental analysis, pemahaman incremental analisis dalam metodology study pembangunan adalah, pilihan yg bertahap dan tambal sulam dalam pemecahan masalah atau sumber sumber masalah yang berhubungan dengan munculnya perubahan orientasi pembangunan, meliputi Review policy management dan project managemet yang terdiri dari dua bagean yaitu :
1. policy cycle
2. Policy hirarchy   
Benarkah bahwa pengertian review kebijakan berbeda dengan review management kebijakan? Pertanyaan ini muncul karena disamping terdapat evaluasi kebijakan, ternyata ada juga evaluasi pada project management yang meliputi catatan penyimpangan kebijakan dari hulu ke hilir kebijakan tertentu, dari pembangunan yang dapat menjadi acuan sebuah pemerintah meruntut  nilai dan manfaat peruntukan hasil hasil pembangunan, dimulai dengan metode top to down atau button to up kebijakan dalam sebuah program. 
Konsep dari atas ke bawah analisis management adalah metode birokrasi atau politik karir, sedangkan button up adalah metode yg lebih mementingkan participation approached atau pendekatan participatoris. Masyarakat saat ini mengalami kesenjangan pemikiran dan salah kaprah dalam memahami tujuan pembanguan. Pembangunan selalu dianggap sebagai cara mengetahui bagaimana memperlakukan negara berkembang dan penanggulangan kemiskinan. Hal ini diakibatkan oleh study development studies yang selalu terpaku pada teori dasar tentang dunia ketiga. Pada masa sejarah perang dingin di barat memang tipology ini sangat merugikan baik aspek pemahaman kemiskinan maupun posisisi negara tersebut ditengah tengah negara lain khususnya barat.
Padahal kita tau bahwa pembangunan itu adalah bagean dari sebuah proses menciptakan iklim yang baik dari struktur sampai infrastruktur pembangunan. Kemiskinan bukan lagi menjadi milik bangsa dunia ketiga belaka, bahkan dalam optimisme malthusian. Dimana malthunisme dianggap sebagai bentuk kelaparan yang akan terjadi bila jumlah makanan lebih sedikit dari jumlah penduduk, atau karena akses mendapat kan makanan yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh sebagean besar negara maju, melalui politik eksport dan import. Ada faktor lain terjadinya kemiskinan sosial antara lain adalah relitas atau kondisi negara yang tidak demokratis lagi atau hanya dalam melengkapi utilitas individu.


Perbandingan antara masyarakat miskin dan kaya di negara kita memang sangat tajam, bahkan kita tidak mampu memberikan konsep pemerataan pembangunan yang jelas dan pasti. Dalam laporan Bapenas, bahwa yang dimaksud miskin adalah apabila masyarakat tertentu atau seseorang tidak bisa memenuhi hak dasar atau basic needs, seperti kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan. Kebutuhan dasar manusia memang bergantung kepada income atau pendapatan, sehingga pendekatan pendapatan dalam study pembangunan juga dipelajari lebih lanjut. Kemiskinan oleh bapenas juga mempelajari soal human capabilities atau kemampuan dasar dalam beberapa hal antara dalam sektor ekonomi adalah kemampuan membeli karena tidak adanya pendapatan, kemampuan belajar dan seterusnya.
Faktor yang terakir yg berpengaruh dalam kemiskinan adalah faktor subjective dan objective, diluar pengaruh masalah masalah kapabilitas maupun kebutuhan dasar, yang ini benar benar dilatar belakangi oleh perspektif personal maupun umum. Benarkah faktor Demokrasi itu berpengaruh dalam pembangunana? Pertanyaan ini kembali menggelitik, karena selama ini ekonomi dan kemiskinan selalu menjadi perspektif yang paling menarik. Padahal kita tau bahwa pemahaman demokrasi dalam buku the publics karya Dewey telah disebutkan sebagai Democracy is the product ideas, of a single and consistent intent, demokrasi merupakan produk ide ide dalam masyarakat dari maksud dan tujuan yg konsisten.
Namun mengapa dalam pembagean isu isu dunia soal keberpihakan politik saja negara negara dibagi menjadi tiga, negara bagean dunia pertama, dunia kedua dan terakir dunia ketiga. Negara dunia pertama adalah bentuk negara yang dikenal sebagai the industrializes democracy of Europa and North America seperti negara Australia,  New Zealand, Japan. Kedua adalah negara dunia kedua merupakan negara negara yg tergabung dalam ideology komunis seperti Korea, China, Amerika Latin, Cuba. Sedangkan dunia ketiga adalah mereka yg tergabung dalam negara negara netral kepada perang dingin di barat dan anggota NAM atau non block atau non aligned movement.

No comments: