Peisistrator




Kesenjangan ataukah Disenjangkan, Ciri Khas Ekonomi Urban Kesenjangan 
Dibawah Preasured Peisistrator


Peisistrator Adalah kekuasaan tiran pada masa kerajaan di Athena, dimana ekonomi dan perkembangannya menjadi sumber kedikdayaan sang rezim di negara kota. Tanah dan kekayaan alam semuanya bertuan, disisakan hanya sekelumit kapling buat rakyatnya yang miskin dan berdesak desakan. Indonesia tumbuh sesak oleh ekonomi kapitalis yg menggurita dari rezim ke rezim, bahkan kekayaan alam Indonesia yg melimpah ruah hanya di akomodasi oleh sekelompok kecil orang yang memiliki modal.

Tirani ekonomi tetap akan membayangi sebuah negara , apabila kita tidak pernah ada pernyataan yg textual dan real tentang berapa persen sebenarnya negara bisa menggunakan dan mengeksploitasi kekayaannya dengan para corporate dan konglomerat dan berapa persen dari sekian area yg dimanfaatkan hanya demi kelestarian alam dan rakyat kecil. Kemiskinan masyarakat urban kian nyata dg lambatnya perkembangan ekonomi dan kesejahteraan pendapatan rakyat, hal itu berakibat Peisistrator yang sekarang muncul tidak lagi tyran kekuasaan namun konglomerat serta bilyoner pembisnis tionghoa, yg memiliki 64% kekayaan negara di belahan dunia.

Membaca sejarah Peisistratus di Athena berasal dari cerita sikap posesif kaum tiran terhadap kontrol yg berlebih lebihan atas negara kota, ambisi tersebut kemudian turun temurun menjadi sebuah dinasti, kalau kita membaca sejarah kota di Indonesia, maka dinasti ini berasal dari dua hal yg pertama adalah etnis china dan kedua adalah kaum bangsawan dalam tanda petik yg merasa menjadi cucu nenek moyang founding father negara Indonesia, krisis kepercayaan terhadap bentuk negara kesatuan misalnya, juga dilatarbelakangi oleh centralisme negara kota yg berada di Jakarta. 

Jakarta menjadi Athena kecil tempat dewa dewa putih memiliki kekuasaan politik, agama dan ekonomi. Cuma perbedaannya adalah Peisistratos di Athena dikuasai oleh kekuatan pasukan Attica yang tidak pernah kalah sebagai the real politik team untuk merealisasikan ambisi kaum bangsawan, sedangkan di Jakarta pemilik modal dengan korporat besar yg memiliki saham saham di media TV dan informasi atau sosial media lah yg menjadi the real politik teams yang membangun kesenjangan ekonomi.
Satu hal yang penting yang harus kita pelajari dari the Peisistrator, yaitu konektisitas antara sang tyran dg para pelaku ekonomi. Kekuasaan memang tidak bisa jauh dari para konglemerat dalam sebuah negara, karena merekalah roda hitam yang memuluskan kemenangan dan menyadang dana tetap bagi kebijakan yang hendak mereka terapkan agar rezim tetap berjaya.

Maka era kapitalisme sudah diajarkan pada masa yunani kuno hingga sekarang tentang bagaimana melanggengkan kekuasaan dengan munculnya para bangsawan bangsawan athena dan tuan tanah yang membisiki para raja. Politik kemiskinan dalam sebuah negara seperti lazim adanya, karna rakyat miskinlah yang harus menjadi obyek pembangunan kota dan kekuasaan. Oleh karena itu pertanyaannya adalah benarkah disetiap negara memang membutuhkan masyarakat miskin? Untuk melanggengakan sang tyran? Sang Peisistrator yang sebenarnya? Ini bagean dari Kesenjangan ataukah disenjangkan?

Kalau kesenjangan berarti memang kondisi sosial yang memang tidak bisa menolak dari faktor kemiskinan dan kelompok masyarakat yang kaya, sedangkan disenjangkan menandakan kesadaran sosial ini menjadi hal yg lumrah dan bukan lagi keprihatinan. Masyarakat Indonesia khususnya yang hidup dibawah garis kemiskinan begitu banyak dan sangat memprihatinkan, jarak antara yg miskin dan yg kaya seperti bumi dan langit, bahkan kita tau, orang kaya Indonesia mungkin melebihi orang orang kaya dibelahan bumi lainnya. Kekayaan tak terbatas hanya dimiliki oleh segelintir orang, dan memiliki ambisi kekuasaan yg tinggi. Orang kaya Indonesia, semakin kaya semakin rakus, sedangkan di luar sana semakin kaya mereka semakin banyak membangun lembaga lembaga nirlaba untuk membantu negara lain.

Mengapa China yg Lebih Beruntung

Dari dahulu China memang penduduk yang ulet, dimana mana, tidak cuma di Indonesia, di negara lain pun Chinalah yang paling besar melakukan migrasi penduduk. Negara yg sangat sempit namun berpenduduk terbanyak, seperti film film alien yang saya tonton, China seperti alien yg kehilangan tempat untuk hidup dan mencari bumi sebagai planet kedua untuk diambil dan menjadi inangnya, semuanya, bukan hanya udaranya, mereka juga melakukan mutasi diam diam sehingga menjadi koloni yg kuat dalam dunia alien. Film alien memang film yg membuat bumi merasa terancam namun ancaman itu tidak pernah tampak riel dan penuh misteri, karena hanya pemerintah Amerika serikat saja yg memiliki keilmuan tentang UFO dan migrasi gelap ini.

China di Indonesia adalah alien yg maha sakti, kesaktiannya bisa membuat manusia terancam dan tidak boleh ada yg mengatakan bahwa China adalah China bukan pribumi, kita tidak boleh membedakan China di Indonesia karena kesaktiannya pula, pembedaan tersebut bisa berakibat keternodaan intelektual kita menjadi cap rasis yg rendah, mungkin lebih rendah dari terompah nabi khidir. Namun saya berani mengatakan bahwa konglomerat China di Indonesia adalah konglomerat yg payah secara nasionalisme.

Pada masa orde baru mereka tidak cukup banyak punya nyali karena kekuasaan orba memang membatasi kebebasan ekonomi menjadi simbol ekonomi terpimpin, dipimpin oleh satu kekuasaan saja dalam politik pembangunan, contoh kongkrit ini bisa kita lihat, tak ada satupun pemilik saham terbesar hingga tahu 80 an tidak dikuasai oleh keluarga cendana, hal ini berdampak positif maupun negatif. Imbas positif yg bisa kita rasakan adalah terkontrolnya mega proyek dan kenaikan rupiah dalam bursa saham yang diakibatkan oleh sikap pengusaha konglomerat keturunan tersebut tidak melakukan penukaran dan penjualan saham kecuali mendapat kesempatan dan mendukung program pemerintah.

Demikian pula sebaliknya. Sedangkan pada masa sekarang mungkin karena mereka terlalu dimanjakan dan disayang oleh bangsa kita, sebagai jenis mutasi genetik yg baru, sebagaimana simbol Peisistrator dari sparta Cleisthenes yang sangat popular di negeri sparta karena programnya memprovokasi Isagoras pada tahun 508 memenangkan kota sparta tanpa pertempuran sedikitpun. Maka Milyader dan konglomerat tionghoa bisa mengendalikan kapan saja kemudi kebijakan ekonomi pemerintah, sampai dengan teknis ke wilayah pengaruh pembanguna fisik dan tenaga kerja yang bagaiman yang hendak mereka cari. Contoh kongkrit kasus ini adalah pembelian tenaga kerja yg didatangkan langsung dr China disaat negara kita masih terbelit masalah pengangguran yg luar biasa

Sekali lagi mengapa China? Mengapa China yang mesti dianggap sebagai manusia yg perlu kita bela mati matian, kita lindungi harkat dan martabatnya, kita mulyakan citranya, sehingga orang yang menyentuhnya menjadi petaka? Mengapa bukan rakyat kecil yg mayoritas, mengapa bukan mereka yg hidup dihutan karena di kota mereka tidak menemukan sisa sisa makanan lagi? Mengapa hanya issu minoritas, bukankah mereka minoritas yg berdaya, sedang kalian bangsa Indonesia di pedalaman jauh dari kota adalah mayoritas yang tak berdaya. Seharusnya bangsa ini lebih cinta kepada yang tidak berdaya. Benarkah itu kutukan Peisistratos?
Merubah Paradigma

Pembangunan Indonesia dan issu issu politik memang harus mulai dirubah, bukan lagi issu rasisme yg mensistem yang akan mengurangi dan merugikan penduduk miskin Indonesia, mengurangi akses konglomerat baik dari Tionghoa maupun non Tionghoa terhadap ekonomi negara, harus dimulai dengan penerapan regulasi yg tinggi terhadap pajak kekayaan konglomerat dan pembisnis berat. Serta kewajiban mereka terhadap tanggung jawab sosial dengan dibuktikan dalam sebuah aksi sosial. Pemerintah harus membagi security menjadi dua bagean, pertama keamanan dan pertahanan.

Keamanan jelas sudah terealisasi melalui fungsi kumhamkamnas, sedang pertahanan sekarang harus dirubah paradigmanya bukan lagi kepada militer namun ekonomi. Harus ada satu dinas seperti kepolisian namun bertugas dalam mengontrol tax publik. Yang saya maksud adalah bukan pegawai pajak namun polisi pajak, kalau di Italy disebut sebagai KABINERI, kabinari berbeda dengan polisi, meski sama sama berpatroli, polisi berpatroli memberantas kriminal sedang Kabineri bertugas memberantas para pelanggar pajak yang sering dilakukan oleh pengusaha pengusaha kaya.

Kalau negara bisa mendapatkan pajak yg besar maka Indonesia tidak perlu lagi mengeksploutasi kekayaan alamnya secara menyedihkan, hingga puluhan tahun dan dinikmati oleh negara lain. Negara Eropa saat ini mencanangkan 76% anggaran negara berasal dari pajak. Semoga Indonesia kedepan dipimpin oleh negarawan yg tidak cukup hanya didukung oleh kepopulerannya namun juga kecerdasannya dalam mengelola negara. 

Comments

Popular Posts