JOKOWI DAN ERA KEBIMBANGAN KOMUNISME






Isu komunisme jauh berkembang dan terbuka di era pemerintahan sekarang, Jokowi . Dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, bahkan di era Soekarno pun pemahaman komunisme hanya difahami sebagean saja oleh kelompok intelektual dan beberapa kelompok yang mengikuti pemikiran Soekarno, pada waktu itu. Pada masa Soeharto permasalahan tersebut tidak diselesaikan, karena pada saat itu dibeberapa dunia pemikiran komunisme mulai surut dg jatuhnya sosialisme dan kapitalisme yg diramalkan mengalami break down justru berada pada puncaknya di tahun tahun tersebut. Saya tertarik untuk memahami dengan benar apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan Indonesia, Problem ekonomikah, politik, agama ataukah problem ketatanegaraan.
 
Kalau itu problem politik jelas jelas bangsa ini mengalami kemunduran yang sangat hebat secara teoritik. Bahkan bisa dibilang intelektual sudah gagal mentransformasikan pengetahuan yg dimilikinya kepada masyarakat awam. Masyarakat semakin buta dan bodoh tentang pemikiran komunisme dan mengikuti halusinasi pemikiran abad 18 bahkan mungkin masa medieval atau abad pertengahan dimana pemikiran tentang politik masih selalu besinggungan soal otonomi teologis dan kebenaran universal. Jelas ini sangat mengganggu perkembangan ekonomi yang semakin hari semakin dituntut untuk melakukan perubahan dengan cepat dan sistematis. Tokoh tokoh agama juga semakin tidak bijaksana sejalan dengan kelompok intelektual yg jual muka seperti anak yang baru dewasa. Jadi jangan menyalahkan kondisi rakyat kita yg emosional, setiap hari bangga mengkotakkan dirinya menjadi kelompok pencinta kekuasaan atau lover teams dan kelompok pembenci rezim atau hater speech.


  


Era Jokowi ini secara psikologi massa bisa dikategorikan sebagai era transisi. Rakyat mengalami kebimbangan yang besar untuk berubah karena terlanjur di era sebelumnya profil seorang Presiden begitu mendominasi, dan hampir rakyat tidak berani merasa lebih menonjol dari penguasanya. Pada saat sekarang dengan kondisi seorang Presiden yang tidak begitu memiliki power yang kuat disebabkan oleh tertutupi oleh hegemoni pendukungnya, yang lebih over show up dibandingkan dengan kepala negaranya yg santai dan kurang memiliki komunikasi politik, yang dapat membawa magnitute massa yg secara spontan dan tak terukur masuk kedalam karakteristik harismatik rasional sebagaimana diungkapkan oleh Weber sebelumnya.  

Dalam kondisi negara maju pada umumnya kritik kepada politik dan pemerintahan adalah wajar, namun mereka lebih banyak memberikan kritik dalam skala alternatif kebijakan, namun kondisi ini tidak terjadi di Indonesia yang mayoritas pemahaman politiknya masih terus berputar putar soal politik kekuasaan dan tipe ideology negara. Bahkan phobia soal komunisme ini juga menjangkit aktivis buruh dan pemerhati kelompok buruh. Sangat aneh bukan?

Aktivis buruh seharusnya justru pada posisi yg diuntungkan ketika pemikiran tentang komunisme ini menggeliat kembali. Mari kita memahami sejarah bersama, bahwa pemikiran tentang komunisme tidak bisa dilepaskan dari ide pertama Karl Marx tentang kritik terhadap Gotha Programnya. Bagaimana sebenarnya diskusi diskusi soal Grundrisse menjadi diskusi yang hangat pada saat itu tentang public work, contoh saat ini adalah berimbas soal road construction, private enterpriser dst. Demikian pula dengan diskusi komunisme di sektor politik dan negara. Diskusi tentang komunism mereka mencoba mengembalikan upaya kepada tujuan negara dimana dibawah pemikiran komunism dan pengetahuan administratif yang dibedakan dari government dan fungsi fungsinya yg akan eksis.


  


Komunisme dan Anotomi Negara

Hal yang bisa kita cermati mengapa terjadi kebimbangan arah politik di zaman Jokowi adalah banyaknya pendatang baru di dunia politik khususnya dikalangan akademisi yang mulai disorot karena era keterbukaan berbicara, pembicaraan soal teori komunisme dan liberalisme juga masih sepotong sepotong dan masih diseputar issu partial, issu itu antara lain:

Issu pertama adalah tentang pertanyaaan basic  yg membedakan antara superstruktur dan struktur ekonomi yang di defenisikan sebagai bentuk hubungan yg efektif dalam control, bagaimana pun juga perubahan struktur legal dalam term ekonomi sangat bergantung ketertarikannya terhadap dominasi kelas yang dimenangkan oleh kelas minoritas yaitu penguasa.

Konsep otonomi negara, mengerucut pada pertanyaan adakah konsep yang spesifik, lebih destruktif atau merusak dari pemikiran dan prinsip produksi dalam politik ekonomi? ternyata pertanyaan ini kembali hanya bertujuan  kepada soal pendapatan negara saja, bukan kepada sistem yg permanen dan signifikan untuk mengembangkan kekuatan ekonomi negara disisi lain.

Dan yang paling aneh adalah issu yg ketiga, issu ini adalah issu yang menempatkan pemikiran komunisme sangatlah bertolak belakang dan jauh sekali dari pemahaman pemikiran komunisme yang saya baca di buku asli Karl Marx, perkembangan komunisme di Indonesia dan beberapa negara yang melakukan revolusi justru bertumpu pada issu agama dan destruksi agama, khususnya Islam. Anomali gerakan ini dilatar belakangi oleh kultur bangsa kita yang kaku dan keras kepala, sehingga kanan dan kiri dimengerti sebagai islam ekstrimis dan atheis, bukan kapitalis dan sosialisme. Lahirnya UU anti sub versi dan idiology negara juga sangat bermakna destruksi pada nilai nilai demokrasi. Rakyat selalu dicekam ketakutan dan bahaya laten komunis menjadi hantu gentayangan yang berakir pada pembelengguan doktrin serta mundurnya negara dan kebodohan politik yang disebabkan oleh kita sendiri, yang sudah salah memahami.

Tema kali ini penulis mencoba memberi pemahaman tentang dasar dasar pemikiran pemikiran komunisme yang benar sesuai dg buku yg ditulis dg teks asli Karl Marx, Semoga kedepan tidak akan ada lagi persoalan yang dipolitisasi menjadi bola api yang memecah belah persatuan bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Semakin cerdas negara maka akan semakin cerdas pula rakyatnya, semakin bagus management pemerintah dan aparatnya maka akan semakin cepat kita menuju keadilan serta kemakmuran yg di cita citakan. Melalui reformasi dan revolusi pemikiran yg di implementasikan seterusnya dalam proyeksi kebijakan di sekala nasional

Kita lihat pada ideologi Jerman, Marxis membuat lebih jelas hubungan antara kapitalisme yang bersifat individual dari pada historical dialektis, sebagaimana diungkapkan dalam pemikiran Stirner, keseimbangan kekuatan ketiga itu akan melawan ruling class dan penyerahan kekuasaan yg nampak, karena bourgeois tidak mengikuti negara hanya untuk intervensi aspek aspek privat dan ketertarikan  mereka agar bisa memberi kekuaasaan lebih banyak untuk me maintained  kompetisi tertentu dalam ekonomi negara, mengapa bangsa ini tidak bisa? Itu pertanyaannya. Karna Indonesia sampai sekarang melihat demokrasi yg terbaik adalah demokrasi yang mengikuti kapitalisme kanan bukan revolusi perkembangan metodologis Marxis yg bertumpu pada revolusi Gothe program.

Di Jerman komunis dg borgiuis apapun itu mereka melakukan revolusi secara bersama sama, melawan monarki absolut dan borgouis, tetapi mereka bukan menggunakan revolusi untuk menyerang dan memidahkan borgouis dan plorental secara kasar namun membiarkan borgouis melakukan permulaan perubahan. Pengalaman yang menyangkut perkembangan plorentariatnya di abad ke 18 dilakukan secara revolusioner kompromis antara keduanya.

Dan oleh  Engels pemikir sesudahnya menerapkan teori yg oleh Marx sudah  memasuki periode kapitalisme pembangunan yg disupport oleh komunisme sebagai agenda pertama. Di tahun 1848 issu konstitusi mulai berkembang lagi dalam pemikiran komunisme, prinsip prinsip konstitusi, satu tahap dari prinsip Gothe program tersebut adalah mengamankan energetic action, setiap langkah provisional politik dengan melakukan revolusi dari rezim diktator dikembalikan kepada issu tentang public welfare, salut public dsb.

Revolusi komunis Marxis dipicu oleh tema sentral dalam kerja kerja yg disebabkan dari aleanasi, krisis ekonomi, eksploitasi dan sebuah kontradiksi antara kekuatan produksi dan hubungan antara produksi dan penghasilan atau outcomes masyarakat komunis. Komunis methodologies adalah, sebuah analisis situasi dan ramalan dari prediksi terhadap revolusi akan penyelesaian permasalahan. Dan para pekerja bisa saja kehilangan pekerjaan mereka karena akibat revolusi ini namun yang terpenting adalah  desakan memanfaatkan dari sebuah tujuan. Tanpa ambisi maka akan membuat prediksi dan metodologi tersebut tidak cepat terlaksana.

Gambar diatas adalah bagaimana menunjukkan hubungan geometris komunisme dan pemikirannya dg benar sesuai dengan pemikiran Karl Marx tentang Gothe Program. Strategy diskusi Marx atas komunisme yang dijabarkan oleh Stanley Moore disebut sebagai revolusi minoritas, revolusi mayoritas, strategi reformasi dan competing system. Kritik terhadap gotha program menolak pemikiran Lassalean terhadap sosialisme, dimana perbedaan antar Marx dan Lassallean ini adalah soal anarkis kiri, dimana politik indifferentism memberikan peringatan atas idea bahwa negara bersebrangan dg tenaga kerja. Sampai pada ahirnya Jerman menemukan sebuah solusi bahwa revolusi ini memang diperlukan untuk mempertahankan sebuah ' porto dorelian', yaitu bahwa pandangan revolusi itu memang perlu adanya.

Dari kapitalisme sampai kepada ide tetang komunisme sebenarnya Karl Marx telah menemukan implementasi ideal secara institusional yg concern terhadap persoalan produksi dan distribusi dalam struktur yg utopi tersebut, keduanya capitalism dan Communism adalah bentuk dari tahapan transisisi ekonomi dan transisi politik ( diktatorship the ploretariat ) dalam kritik gotha program. Antara pilihan kapitalisme dan communism society, semuanya merupakan pilihan tepat dengan menerapkan market socialism bentuk lain dari desentralisasi pasar.

Komunisme adalah hanya generalisasi dan konsumenisasi hubungan antara private dan propherty, menghancurkan semua bentuk privat propherty, dalam gotha program communist society hanya bentuk yang mendesak dari persoalan kapitalisme yang tidak mampu lagi di cegah, dan hanya konsep respect, economically, moral serta intelektual masih dicap dengan tanda lahir dari masyarakat lama dari yang siap muncul sewaktu waktu. Karl Polayi menyimpulkan bahwa komunisme hanyalah sirkulasi yg bagus dari kemandegan masyarakat yg berdasar pada autarkic subsitence yg mengorganisir anatara perubahana pasar dan redistribusi yaitu market, planing dan reciprocitas.

Observasi pada teology komunisme hanya menambahkan tiga elemen sistem yang merupakan tipe murni dalam sistem masyarakat apapun, alasan ini karna pertama menurut sejarahnya reciprocity atau kehendak membalas adalah central dari prinsip teologi komunisme, setiap manusia akan melakukan respon sebagai pembalasan dari pembalasan secara umum atau general reprocity, manusia secara nature melakukan kerja, dan dalam bentuk kreasi kerja tersebut objeknya berhubungan dengan manusia lainnya.

Common plan adalah sebuah perencanaan umum yang berujud perencanaan dimana agen pusat dari perencanaan tsb secara ekonomi atau politik berhasil mendapatkan public good dan mencegah fluktuasi klinis dari fenomena boros. Hal ini lebih lanjut oleh Marx dijabarkan dalam tiga konsepnya yaitu :
1. For general cost of administration not belonging to production
2. For the common satisfaction of need (school, healt, service )
3. For the fund of those unable to work

Sedangkan dalam konteks komunisme publik atau politik diberikan kesimpulan atas tiga hal juga  yaitu
1. No govermental function
2. The distribution of general function has become a business matter does not afford any room
     for domination
3. The election has none of its present political character

Demikian  sekilas pemahamn komunisme dari buku yg ditulis Marx dalam bahasa Prancis, Germany dan Italy. Semoga bermanfaat dan tidak salah memahami lagi karna tidak membaca teorinya.

Comments

Popular Posts